A. Pendahuluan.
Setiap komunitas memiliki seperangkat pengertian dan perilaku yang berasal dari generasi-generasi sebelumnya maupun dari pengalaman komunitas tersebut untuk menyelesaikan secara baik dan benar berbagai persoalan serta kesulitan yang dihadapi. Dalam proses waktu, rangkaian perilaku dan pengertian itu mengkristal dan menjadi sekumpulan nilai atau ajaran moral, yang kemudian secara umum dikenal sebagai local wisdom alias kearifan lokal. Kearifan lokal dapat dilihat dalam dua dimensi, yaitu sebagai pengetahuan dan dipraktekkan berupa pola-pola interaksi perilaku atau tindakan. Kearifan lokal yang dimiliki suatu komunitas berakar dari budaya komunitas itu sendiri.
Jawa adalah salah satu etnik yang juga memiliki kearifan lokal yang mencakup semua sendi kehidupan termasuk dalam pendidikan. Memahami kearifan jawa sebagai pengetahuan dan mempraktekkan dalam perilaku dapat membuat orang menjadi matang, dewasa, arif dan bijaksana. Sehingga dapat membantu membentuk profil manusia terdidik, yaitu manusia yang beriman, bertaqwa, berakhlak mulia dan cerdas.
Prof. Dr. RM. Wisnoe Wardhana menegaskan, filsafat Jawa sebenarnya sangat menggambarkan hakikat segala sesuatu yang senantiasa berkaitan dengan nilai kebaikan yang terungkapkan secara indah Menurut dia hal itu sangat mudah diikuti oleh mereka yang menyukai, namun kadang menjadi sulit dipahami oleh mereka yang kurang mengerti. "Untuk memahaminya diperlukan pemahaman kosa kata Jawa," katanya. Wardhana mengemukakan, pengungkapan filosofi Jawa bisa melalui cara jarwo dhosok. Sehingga melaksanakan nilai-nilai fisafat jawa tidak bertentangan dengan nilai-nilai kebaikan secara umum yang dapat diterima oleh semua orang terasuk oleh selain orang jawa.
Pengaruh globalisasi membuat orang jawa mulai melupakan dan meninggalkan nilai-nilai budaya jawa bahkan merasa malu dengan budayanya sendiri. Pengaruh globalisasi membuat orang melupakan nilai-nilai kearifan jawa. Padahal kearifan jawa sangat fleksibel yang dapat beradaptasi dengan perkembangan jaman. Ketua Umum Yayasan Ki Hadjar Dewantara, Soesilo Soedarman mengatakan: “sejarah membuktikan bahwa budaya Jawa sangat lentur, kreatif dan liat, seperti ketika berhadapan dengan Hindu, Budha, Islam bahkan dengan Belanda.” Maksudnya budaya jawa tidak akan pernah ketinggalan jaman, karena budaya jawa dapat beradaptasi dengan perkembangan jaman.
Globalisasi itu sendiri telah membawa berbagai perubahan yang cukup dramatis akibat melumernya batas sosial budaya (deteritorialisasi) yang berpengaruh pada aspek politik, ekonomi, kebudayaan, dan mempengaruhi aspek kunci teknologi transportasi serta komunikasi, yang membuat dunia menjadi ringkas dalam jarak dan waktu. Zygmunt Bauman dalam bukunya Globalization: The Human Consequences mengatakan globalization seems to be the fate of the world. Faktanya memang ada berbagai hal yang bukan saja mengada-ada di era global, namun menjadi berbagai kemungkinan yang tak terelakkan bagi kelanjutan jalannya sejarah itu sendiri. Globalisasi dapat mempengaruhi jalannya budaya dan nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Sehingga jika kita tidak hati-hati dalam menyikapi pengaruh globalisasi, maka budaya anak cucu kita di masa yang akan datang akan berbeda dengan budaya yang ada sekarang ini. Sebagai contoh anak masa sekarang ini sudah banyak yang meninggalkan sikap sopan santun dalam pergaulan terhadap orang tua, orang yang lebih dewasa, teman sebaya dan orang yang lebih muda. Hal ini berbeda jauh dengan sikap sopan-santun dalam pergaulan generasi sebelumya.
B. Permasalahan.
Berdasarkan latar belakang pada pendahuluan di atas, maka masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:
1. Apa saja kearifan jawa yang dapat diterapkan dalam dunia pendidikan di Indonesia?
2. Apakah kearifan jawa masih relevan dalam jaman modern sekarang ini?
C. Tujuan.
Pembahasan makalah ini bertujuan untuk:
1. Mengkaji dan menguraikan kearifan jawa yang dapat diterapkan dalam pendidikan.
2. Mengkaji apakah kearifan jawa masih relevan diterapkan dalam pendidikan pada jaman modern ini.
D. Pembahasan.
Pasal 31 ayat 3 UUD 45 menyatakan bahwa; Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang. Pemerintah bertanggung jawab untuk melaksanakan pendidikan nasional. Tujuan pendidikan nasional adalah membentuk manusia yang beriman, bertaqwa, berakhlak mulia dan cerdas. Jadi tujuan pendidikan nasioal mencakup aspek spiritual dan intelektual.
Kearifan jawa yang mengandung nilai-nilai kebaikan dapat membantu membentuk manusia yang dewasa, arif dan bijaksana sebagai tujuan pendidikan aspek moral atau spiritual. Jika kearifan jawa dapat dipahami dan dilaksanakan dalam kehidupan pada umumnya dan dalam pendidikan pada khususnya, maka pelaksanaan pedidikan dapat efektif dan efisien. Sehingga tujuan pendidikan akan dapat tercapai baik aspek moral maupun aspek intelektualnya.
Orang yang sedang belajar pada prinsipnya adalah mencari “ngelmu”. Jarwo dhosok dari ngelmu adalah “angele tinemu” artinya ilmu itu sulit dicari. Mencari ilmu harus berusaha sungguh-sungguh supaya berhasil. Semua pihak yang terlibat dalam proses pendidikan mulai peserta didik, masyarakat, tenaga pendidik, penyelenggara pendidikan (lembaga pendidikan) dan pemerintah harus sungguh-sungguh menangani masalah pendidikan. “Ngelmu iku kelakone kanthi laku” artinya tanpa usaha tidak akan dapat mempunyai ilmu atau tidak dapat menjadi orang yang pandai dan bijaksana. Jika semua pihak yang terlibat dalam pendidikan tidak “laku” atau tidak usaha sungguh-sungguh, maka tujuan pendidikan tidak akan dapat tercapai.
Filosofi jawa berbunyi: “ Dadiyo wong ngerti sak durunge dadi wong pinter. Wong ngerti iku bakalan dadi wong pinter, nanging yen wong pinter wae durung mesti dadi wong ngerti. Yen wong pinter wae dadi keblinger”. Maksudnya jadilah orang yang mengerti dulu sebelum menjadi orang pandai. Karena orang yang mengerti itu pasti pandai. Tapi orang yang pandai belum tentu mengerti. Orang yang pandai saja pasti akan terjerumus. Orang harus paham apa yang dipelajari supaya benar-benar mengerti tentang sesuatu agar tidak terjerumus. Peserta didik merasa belum mengerti apa-apa dan harus belajar sunggu-sungguh supaya dapat paham dan mengerti. Orang yang merasa dirinya sudah pandai sebenarnya masih bodoh dan akhirnya tidak mau berusaha untuk belajar lagi. Orang yang sudah merasa pandai akan menganggap ringan semua masalah yang akhirnya dapat menjerumuskan dirinya sendiri dan orang lain.
Murid dan guru tidak boleh bersikap merasa pandai sendiri karena setiap orang pasti mempunyai kekurangan. Hal ini sesuai dengan Filosofi jawa yang mengatakan: “Aja Kuminter Mundak Keblinger, Aja Cidra Mundak Cilaka”. Artinya jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah, jangan berbuat curang agar tidak celaka. Jika seseorang merasa paling pandai, maka tidak mau menerima ide atau pikiran orang lain dan tidak akan berusaha untuk belajar lagi atau melanjutkan pedidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Seorang guru harus selalu belajar supaya mempunyai pengetahuan yang cukup sesuai dengan kondisi yang dihadapi dan mempunyai wawasan jauh ke depan. Murid juga harus selalu belajar dari berbagai sumber yang tersedia baik dari lingkungan sekolah sebagai pendidikan formal, pendidikan Nonformal (kursus), keluarga sebagai pendidikan Informal, lingkungan masyarakat dan dapat juga memanfaatkan teknologi internet.
Seorang guru harus dapat di-gugu lan ditiru. Maksudnya seorang guru tidak hanya memberikan materi pelajaran secara teoritis, tetapi harus dapat dijadikan contoh dan memberikan teladan yang baik. Sikap hidup seorang guru harus mencerminkan ilmu yang sudah dikuasai. Murid atau orang lain akan melihat sebuah ilmu yang berbentuk nyata, berbentuk sikap hidup atau perilaku sehari-hari. Sehingga murid atau orang lain dapat mencontoh sikap hidup yang baik dari seorang guru dan dapat belajar dari apa yang dilihat dan didengar. Apabila guru dapat menjadi sosok yang dapat di-gugu lan ditiru, maka anak didik akan percaya dengan apa yang diajarkan guru dan siswa akan mudah mengerti dan memahami materi pelajaran yang diberikan guru. Masyarakat juga akan melihat guru sebagai figur yang pantas dihormati.
Metode pengajaran yang digunakan tidak hanya berupa ceramah yang bersifat teoritis, tapi bisa berbentuk contoh tindakan nyata, misalnya metode pengajaran dengan latihan-latihan, demonstrasi dan praktek.
Sosok guru juga harus mempunyai sifat di depan memberi teladan, di tengah memberikan semangat, di belakang memberikan dorongan motivasi. Hal ini sesuai dengan filosofi jawa yang berbunyi: “Ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani”. Pada saat di depan guru dapat dijadikan contoh dan panutan semua orang. Guru dapat menjadi pemimpin yang dapat dipercaya, disegani dan dapat dijadikan panutan. Pada saat guru berada di tengah maka sosok guru tidak boleh menjadi penghalang sesuatu yang baik, tetapi harus memberi semangat. Pada saat siswa putus asa untuk belajar, seorang guru wajib memberi semangat atau motivasi supaya masa depan siswa dapat lebih baik. Seorang guru tidak selalu berada pada barisan depan. Pada saat berada di barisan belakang sosok guru dapat memberikan dorongan agar yang ada didepan dapat maju lebih baik lagi.
Karakter siswa beraneka ragam sesuai tingkatan umur, jenjang pendidikan, latar belakang keluarga dan lingkungan. Cara mengajar siswa yang heterogen bisa menggunakan berbagai cara atau metode sesuai dengan karakter siswa tersebut. Siswa yang bisa memahami materi pelajaran dengan mendengar dan melihat maka guru perlu menjelaskan materi dan memberi contoh-contoh. Siswa yang mempunyai masalah perlu mendapat perhatian kusus. Misalnya siswa yang perlu dorongan atau motivasi harus diberi semangat dan dorongan untuk maju. Filosofi “Ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani” dapat diterapkan untuk menangani siswa yang heterogen tersebut.
Tujuan pendidikan akan tercapai jika peserta didik bersikap sebagaimana seorang murid, tenaga pendidik bersikap sebagaimana seorang guru dan ditunjang dengan dana untuk keperluan pendidikan tersebut. Pendidikan memerlukan media, sarana dan prasarana untuk kegiatan belajar mengajar. Media, sarana dan prasarana yang memadai akan membuat kegiatan belajar mengajar menjadi efektif dan efisien. Untuk menyediakan media, sarana dan prasarana pendidikan diperlukan dana yang tidak sedikit. Sebuah unkapan mengatakan “Jer basuki mowo beyo” Maksudnya untuk mencapai cita-cita atau kemuliaan diperlukan usaha dan biaya atau dana. Semakin tinggi cita-cita yang ingin dicapai, biaya yang diperlukan juga semakin banyak. Masyarakat saja tidak akan mampu menanggung dana pendidikan yang sangat besar tersebut. Sehingga Pemerintah perlu mambantu dana pendidikan.
Proses pendidikan diharapkan mampu menghasilkan manusia-manusia terdidik, yaitu manusia yang berakhlak mulia dan cerdas. Manusia terdidik akan bermanfaat bagi manusia lain, bagi bangsa dan negara. “Urip Iku Urup” artinya hidup itu menyala, hidup hendaknya memberi manfaat bagi orang lain disekitar kita. Jika pendidikan semakin berhasil, maka semakin besar manfaat yang bisa kita berikan. Sekecil apapun manfaat yang dapat kita berikan, jangan sampai kita menjadi orang yang meresahkan masyarakat. Manusia terdidik akan mampu menjadi “urup” atau penerang bagi manusia lain. Jika semua manusia bisa saling menerangi, saling memberi manfaat dan tidak saling meresahkan, maka akan tercipta kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang harmonis.
Manusia terdidik juga akan mampu “Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara” maksudnya manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan, serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak. Jika ada manusia yang merasa terdidik tapi mempunyai sifat angkara murka, serakah dan tamak, maka sebenarnya tidak termasuk manusia terdidik. Manusia terdidik adalah manusia yang matang moral dan intelektualnya.
Beberapa kearifan jawa yang diuraikan di atas mencakup beberapa faktor dalam pendidikan, yaitu:
a. Sikap seorang siswa atau peserta didik.
b. Sikap sosok guru atau tenaga pendidik.
c. Cara mengajar siswa/ metode siswa yang heterogen.
d. Pendidikan memerlukan biaya atau dana yang tidak sedikit.
e. Hasil pendidikan adalah manusia terdidik yang moral dan intelektualnya matang.
Kearifan-kearifan jawa yang diuraikan di atas membuktikan bahwa kearifan jawa masih relevan diterapkan dalam pendidikan pada jaman modern ini, karena tidak bertentangan dengan tujuan pendidikan dan tidak menghambat perkembangan jaman dan teknologi.
E. Kesimpulan.
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat di tarik kesimpulan:
1. Tujuan pendidikan nasional adalah meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Sehingga mencakup aspek spiritual dan intelektual.
2. Kearifan jawa yang mengandung nilai-nilai kebaikan dapat membantu terwujudnya tujuan pendidikan nasional.
3. Pada dasarnya siswa mencari “ngelmu” yang “angel tinemu” sehingga “Ngelmu iku kelakone kanthi laku” artinya ilmu itu hal yang sulit didapat sehingga ilmu dapat diperoleh hanya dengan laku atau berusaha sungguh-sunguh. Sehingga semua pihak yang terlibat dalam pendidikan harus berusaha sungguh-sungguh supaya tujuan pendidikan dapat tercapai.
4. “Dadiyo wong ngerti sak durunge dadi wong pinter. Wong ngerti iku bakalan dadi wong pinter, nanging yen wong pinter wae durung mesti dadi wong ngerti. Yen wong pinter wae dadi keblinger”. Maksudnya jadilah orang yang mengerti dulu sebelum menjadi orang pandai. Karena orang yang mengerti itu pasti pandai. Tapi orang yang pandai belum tentu mengerti. Orang yang pandai saja pasti akan terjerumus. Orang harus paham apa yang dipelajari supaya benar-benar mengerti tentang sesuatu agar tidak terjerumus.
5. Murid dan guru tidak boleh bersikap merasa pandai sendiri karena setiap orang pasti mempunyai kekurangan. Hal ini sesuai dengan Filosofi jawa yang mengatakan: “Aja Kuminter Mundak Keblinger, Aja Cidra Mundak Cilaka”.
6. Seorang guru harus dapat di-gugu lan ditiru. Maksudnya seorang guru tidak hanya memberikan materi pelajaran secara teoritis, tetapi harus memberi contoh dalam bentuk praktek atau tindakan. Sikap hidup sehari-hari sosok guru juga harus dapat dijadikan contoh dan memberikan teladan yang baik.
7. Sosok guru harus mempunyai sifat di depan memberi teladan, di tengah memberikan semangat, di belakang memberikan dorongan motivasi. Hal ini sesuai dengan filosofi jawa yang berbunyi: “Ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani”.
8. Filosofi “Ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani” dapat diterapkan untuk menangani siswa yang heterogen.
9. “Urip Iku Urup” artinya hidup itu menyala, hidup hendaknya memberi manfaat bagi orang lain disekitar kita. Jika pendidikan semakin berhasil, maka semakin besar manfaat yang bisa kita berikan.
10. Manusia terdidik juga akan mampu “Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara” maksudnya manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan, serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak.
11. Kearifan jawa dalam pendidikan mencakup semua faktor dalam pendidikan, yaitu; siswa, guru, model pengajaran dan dana yang menjadi tanggungan masyarakat, lembaga pendidikan dan pemerintah, serta hasil pendidikan.
12. Kearifan jawa masih relevan diterapkan pada jaman modern sekarang ini.
F. Daftar Pustaka.
Heru Emka, 12 Nopember 2008: Filosofi Jawa dalam Global. http://lare44.blog.friensdster.com/category/flosofi-hidup-wong-jowo/
Arif Hidayat, 16 Agustus 2008: Kearifan Lokal: Delapan Watak Pemimpin Jawa. http://arhidayat.staff.uii.ac.id/2008/08/16/Kearifan-Lokal:-Delapan-Watak-Pemimpin-Jawa/
Cak Nun, 1996: Banyak Langgar Filosofi Jawa Lentur, Kreatif dan Liat. http://www.rad.net.id/online/mediaind/publik/9610/28/MI18-01.28.html
Azwirdafrist, 26 Februari 2008: Budaya Jawa Sebagai Filsafat Hidup Agar Tidak Menjadi Koruptor. http://Azwirdafrist.wordpress.com
..........................., 9 Mei 2006. Kayam, Tohari dan Jawa. http://haqiqie.wordpress.co/2006/05/07/kayam-tohari-dan-jawa
.........................., 9 Nopember 2008: 10 Filosofi Hidup Orang Jawa. http://aduhay.multiply.com/journal/item175/10-filosof-orang-jawa/
............................, 12 Juli 2007: Lebih Dekat dengan Filosofi Jawa. http://Flyingsolighttisky.blogspot.com/2007/07/
Mang Jami: 7 Februari 2008: Filosofi Jawa. http://Forum.kafegaul.com/showphost.php?s=e25d935650d8bf411c29e67628d0a29&p=7066113&poscount
SELAMAT DATANG
SELAMAT BERJUMPA DENGAN SUSANTRONIKA
SHARING MEMPERLUAS WAWASAN DAN PENGETAHUAN
SHARING MEMPERLUAS WAWASAN DAN PENGETAHUAN
Selasa, 10 Mei 2011
Minggu, 08 Mei 2011
TOTAL QUALITY MANAGEMENT IN EDUCATION
A. Latar Belakang Lahirnya Gerakan Mutu
Mutu dalam pendidikan merupakan hal yang membedakan antara kesuksesan dan kegagalan. Sehingga mutu merupakan masalah pokok yang yang akan menjamin perkembangan sekolah dalam meraih status di tengah-tengah persaingan dunia pendidikan yang semakin keras. Sumber mutu dalam pendidikan antara lain: sarana gedung yang bagus, guru yang terkemuka, nilai moral yang tinggi, hasil ujian yang memuaskan, spesialisasi atau kejuruan, dorongan orang tua, bisnis dan komunikasi lokal, sumberdaya yang melimpah, aplikasi teknologi mutakhir, kepemimpinan yang baik dan efektif, perhatian kepada pelajar dan anak didik, kurikulum yang memadai, atau juga kombinasi dari faktor-faktor tersebut.
Dalam konteks TQM, mutu merupakan filosofi dan metodelogi yag membantu institusi untuk merencanakan perubahan dan mengatur agenda dalam menghadapi tekanan-tekanan yang berlebihan. TQM dapat diaplikasikan dalam pendidikan walaupun tidak akan membawa hasil dalam waktu yang singkat karena esensi TQM adalah perubahan budaya (change of culture).
Dalam idustri sejak dulu sudah ada keharusan menjaga mutu karena dapat membuat pelanggan semakin percaya terhadap produk tersebut dan akhirnya mendatangkan keuntungan bagi produsen. Kemudian lahir devisi kerja dengan nama Quality Control (kontrol mutu). Kontrol mutu adalah proses yang menjamin hanya produk yang memenuhi kualifikasi tertentu yang boleh dilempar ke pasaran. Setelah perang dunia kedua kontrol mutu diganti atau ditambah dengan penjamin mutu dan perbaikan mutu dengan mengembalikan tanggung jawab mutu pada tenaga pembuatnya. Penjamin mutu dan perbaikan mutu dikembangkan pada tahun 1930-an dan 1940-an oleh Edward Deming.
Gerakan mutu terpadu mulai dilaksanakan dalam pendidikan pada tahun 1980-an di Amerika dan Inggris dan pada tahun 1990-an kedua Negara tersebut benar-benar dilanda gelombang gerakan mutu terpadu.
B. Memahami Konsep Mutu
1. Konsep Mutu
Mutu merupakan gagasan yang dinamis. Kekuatan emosi dan moral yang dimiliki mutu membuatnya menjadi sebuah gagasan yang sulit diseragamkan. Mutu sebagai konsep yang absolut dapat dicontohkan dengan restoran yang mahal, mobil mewah. Sedangkan mutu dalam sifat baik cantik, dan benar merupakan suatu idealisme yang tidak dapat dikompromikan. Sesuatu yang bermutu merupakan bagian dari standard yang sangat tinggi yang tidak dapat diungguli. Produk yang bermutu adalah sesuatu yang dibuat dengan sempurna dan dengan biaya yang mahal. Produk-produk tersebut dapat membuat puas dan bangga para pemiliknya. Misalnya mobil yang bermutu adalah mobil hasil rancangan istimiwa, mahal dan mempunyai interior dari kulit. Dalam kasus ini mahal dan langka adalah nilai penting dalam definisi mutu. Contoh dalam pendidikan adalah sekolah elit. Hanya sedikit institusi yang dapat memberikan pengalaman pendidikan dengan “mutu tinggi (elit)” dan hanya sedikit peserta didik yang dapat pengalaman pendidikan tersebut (langka). Gagasan absolut tentang mutu tinggi hanya sedikit yang bersinggungan dengan TQM.
Pengertian mutu yang digunakan dalam TQM adalah mutu sebagai konsep relatif. Definisi relatif memandang mutu bukan sebagai sesuatu atribut produk atau layanan, tetapi sesuatu yang berasal dari produk atau layanan tersebut. Sesuatu dikatakan mutu apabila produk terakhir sudah sesuai standard atau belum, tidak harus mahal dan eksklusif. Mutu harus mengerjakan apa yang harus dikerjakan dan mengerjakan apa yang diinginkan pelanggan atau harus sesuai dengan tujuan. Definisi relatif tentang mutu mempunyai aspek menyesuaikan diri dengan spesifikasi dan memenuhi kebutuhan pelanggan. Mutu sesungguhnya merupakan dasar sistem jaminan mutu yang dianggap sesuai dengan British Standard Institution dalam standard BS5750 atau standard international identik dengan ISO 9000.
Organisasi-organisasi yang menganut konsep TQM melihat mutu sebagai sesuatu yang didefinisikan oleh pelanggan-pelanggan mereka. Terkadang produk dan layanan yang menurut produsen sudah sempurna, sesuai standard dan bermanfaat tapi ditolak oleh konsumen. Produk yang memenuhi kualifikasi tidak menjamin jumlah penjualan. Tom Peters dalam Thriving On Chaos berpendapat bahwa mutu yang didefinisikan pelanggan jauh lebih penting dibandingkan harga dalam menentukan permintaan barang dan jasa.
2. Kontrol Mutu, Jaminan Mutu dan Mutu Terpadu
Kontrol mutu merupakan proses pasca produksi yang melacak dan menolak item-item yang cacat, digunakan secara luas dalam pendidikan untuk memeriksa apakah standard-standard telah dipenuhi atau belum. Jaminan mutu bertujuan mencegah kesalahan sejak awal produksi. Jaminan mutu didesain sedemikian rupa untuk menjamin bahwa proses produksi menghasilkan produk yang memenuhi spesifikasi yang telah ditetapkan sebelumnya. Jaminan mtu adalah sebuah cara untuk memproduksi produk bebas cacat dan kesalahan, produk yang baik seak awal. Jaminan mutu lebih menekankan tanggg jawab kepada tenaga kerja dibandingkan inspeksi control.
TQM merupakan perluasan dan pengembangan dari jaminan mutu. TQM adalah sebuah usaha menciptakan sebuah kultur mutu, yang mendorong semua anggota stafnya untuk memuaskan pelanggan. Pendekatan ini dipopulerkan oleh Waterman dalam In Search Excellence dan telah menjadi tema khas dalam tulisan-tulisan Tom Peters. Dengan memuaskan pelanggan, bias dipastikan mereka akan kembali lagi dan memberitahu teman-temannya tentang layanan tersebut. Ini disebut mutu yang menjual (Sell-on Quality).
3. Produk dari Pendidikan
Ada perbedaan pendapat tentang produk pendidikan. Lynton Gray mengungkapkan: “Manusia tidak sama, dan mereka berada dalam situasi pendidikan dengan pengalaman, emosi, dan opini yang tidak bisa disama-ratakan. Menilai mutu pendidikan sangat berbeda dengan memeriksa hasil produksi pabrik atau menilai sebuah jasa”. Ide pelajar sebagai produk menghilangkan kompleksitas proses belajar dan keunikan setiap individu pelajar. Menjawab pertanyaan apa produk pendidikan harus dilihat pendidikan sebagai sebuah jasa atau layanan dan bukan sebuah bentuk produksi.
4. Mutu Jasa (Sevice Quality)
Karakteristik mutu jasa jauh lebih sulit untuk didefinisikan dibandingkan mendefinisikan mutu produk, karena karakteristik mutu jasa mencakup beberapa elemen subyek penting. Perbedaan antara mutu produk (barang) dan mutu jasa adalah:
a. Metode
Mutu jasa ditentukan oleh pelanggan dan pemberi jasa, karena jasa diberikan secara langsung dari orang ke orang. Produk tidak mempunyai karakteristik kedekatan pelanggan dengan produsen, tidak terdapat nilai konsistensi atau terjebak dalam homogenitas yang absolut dalam pemberian jasa.
b. Waktu
Jasa harus diberikan tepat waktu dan jasa digunakan atau dikomsumsi tepat pada saat jasa diberikan, maka kontrol mutu selalu datang kemudian. Untuk menilai pelanggan terpuaskan apa tidak dilakukan dengan memanfaatkan interaksi personal yang akrab dalam pemberian jasa sehingga pemberi jasa akan mendapatkan umpan balik dan evaluasi.
c. Pada jasa tidak bisa ditambal atau diperbaiki, sehingga standar jasa adalah baik sejak awal. Standard ini memang sulit tercapai, tapi harus selalu menjadi tujuan utama.
d. Jasa lebih cenderung mirip proses dari pada produk. Cara jasa sampai ke tempat tujuan lebih penting dari pada apa jasanya.
e. Staf senior pada jasa biasanya jauh dari pelanggan. Kebanyakan pelanggan tidak pernah memiliki akses kepada manajer senior (kepala sekolah). Mutu merupakan pandangan awal yang mewarnai pandangan pelanggan terhadap keseluruhan organisasi, dan kemudian organisasi harus menemukan cara untuk memotivasi pekerja garis depan agar selalu menyampaikan hal terbaik kepada pelanggan.
f. Keberhasilan produktifitas dalam jasa sulit diukur. Satu-satunya indikator prestasi yang penting dalam jasa adalah kepuasan pelanggan. Indikator lunak (Soft) seperti kepedulian, kesopanan, perhatian, keramahan, dan suka membantu merupakan hal terpenting dalam pikiran pelanggan. Indikator ini tidak bisa diraba, sehingga mempersulit jasa dalam melakukan evaluasi. Pelanggan akan menilai mutu dengan cara membandingkan apa yang mereka harapkan dengan apa yang mereka terima.
5. Pendidikan dan Pelanggan
Beberapa pendidik mengungkapkan bahwa istilah pelanggan memiliki nada komersial yang tidak dapat diaplikasikan dalam pendidikan. Mereka lebih suka menggunakn istlah “Klien”. Ada juga yang memilih istilah pelajar atau murid dan menolak istilah klien.
Ada yang mendiskrisikan klien adalah yang biasa menerima jasa pendidikan seperti beasiswa, dan pelanggan adalah yang membayar untuk mendapat pendidikan. Edward Sallis mengungkapkan: “Pelajar utama yaitu pelajar yang secara langsung menerima jasa, pelanggan kedua yaitu orang tua, Gubernur atau sponsor pelajar yang memiliki kepentingan langsung secara individu maupun institusi, pelanggan ketiga yaitu pihak yang memiliki peran penting, meskipun tak langsung, seperti pemerintah dan masyarakat secara keseluruhan. (Edward Sallis, 2008: 68).
Bentuk pemasaran pendidikan yang paling baik adalah pemasaran yang dipilih oleh para pelajar untuk kepentingan mereka masing-masing. Kesuksesan pelajar adalah kesuksesan intitusi pendidikan.
6. Pelanggan Internal dalam Pendidikan
Dalam TQM, setiap orang yang bekerja dalam institusi adalah pelanggan internal. Hubungan internal yang kurag baik akan menghalangi perkembangan institusi, dan akhirnya akan membuat pelanggan eksternal menderita.
7. Mempertemukan Kebutuhan Pelanggan yang Bervariasi
Pandangan dan kebutuhan pelanggan internal dan eksternal akan selalu ada. Perbedaan tersebut dapat dipertemukan dengan mengenali eksistansi mereka dan mencari inti isu-isu yang besar. Seluruh pelajar mempunyai pandangan yang harus didengar dan ingin diperlakukan dengan adil. TQM memastikan bahwa proses intitusi harus menempatkan sudut pandang pelajar sebagai pusat dari setiap proses perencanaan strategis.
Kebutuhan dan gagasan para pelajar seharusnya menjadi fokus utama dari setiap institusi pendidikan, tetapi tidak berarti bahwa pandangan kelompok (faktor) lain diabaikan. Sering terjadi pada saat kebutuhan pelajar bertemu dengan mekanisme dana, institusi kesulitan untuk mendahulukan kebutuhan pelajar. Hal tersebut terjadi karena mekanisme dana menekankan efisiensi dalam mencapai mutu, sementara penilaian mutu menurut mekanisme dana tidak selamanya sesuai dengan umpan balik mutu yang dimaksud pelanggan. Ini merupakan isu yang sulit dipecahkan dan TQM tidak memberikan jawaban yang siap pakai untuk itu.
C. Total Quality Management dalam Konteks Pendidikan
TQM adalah sebuah filosofi tentang perbaikan secara terus-menerus, yang dapat memberikan seperangkat alat praktis kepada setiap institusi pendidikan dalam memenuhi kebutuhan, keinginan, dan harapa para pelanggannya, saat ini dan masa yang akan datang (Edward Sallis, 2008: 73).
1. TQM –Beberapa Miskonsepsi
Yang bukan TQM adalah:
a. TQM bukan beban
TQM tidak bisa diterapkan pada dan untuk anda. Institusi harus memperkenalkan terlebih dahulu agar TQM dapat berjala lancar.
b. TQM bukanlah inspeksi
TQM adalah sebuah keinginan untuk encoba mengerjakan sesuatu dengan selalu baik dari awal, tidak menyediakan kesempatan untuk memeriksa kalau-kalau ada yang salah.
c. TQM bukan sebuah tugas yang hanya dikerjakan manajer
Kata “Total” (Terpadu) mengandung makna setiap orang yang berada di dalam organisasi harus terlibat dalam upaya melakukan peningkatan secara terus menerus. Kata “Management” mengandung makna TQM berlaku untuk semua orang, karena semua orang adalah manajer dalam tanggung jawabnya masing-masing.
Program TQM tidak harus menggunakan nama TQM. Misalnya Boots the Chemist menyebut program mutu ekstensinya dengan “Assured Shopping”. American Express meggunakan istilah “AEQL (American Express Quality Leadership). Organisasi ini lebih menekankan kepemimpinan (Leadership) bukan manajemen.
2. Perbaikan Terus-menerus
TQM dapat dipaham sebagai filosofi perbaikan tanpa henti hingga tujuan organisasi dapat dicapai dan dengan melibatkan segenap komponen dalam organisasi tersebut. Sebagai sebuah pendekatan, TQM mencari sebuah perubahan permanen dalam tujuan sebuah organisasi, dari tujuan “kelayakan” jangka pendek menuju tujuan “perbaikan mutu” jangka panjang.
3. Kaizen
Kaizen adalah kata atau istilah Jepang dalam menjelaskan pendekatan perbaikan terus-menerus. Esesi Kaizen adalah proyek kecil yang berupaya untuk membangun kesuksesan dan kepercayaan diri, dan engembangka daar peningkatan selanjutnya.
Joseph Juran berpendapat bahwa metode yang paling baik untuk engerjakan proyek yang besar adalah dengan memisahkannya ke dalam pekerjaan-pekerjaan kecil yang terkendali. Karena perubahan solid dan bertahan lama didasarkan pada kontinuitas rangkaian proyek yang kecil dan mungkin.
4. Perubahan Kultur
TQM memerlukan perubahan kultur dan perubahan ini memerlukan waktu yang lama. TQM memerlukan perubahan sikap dan metode. Staf harus memahami dan melaksanakan pesan RQM agar membawa dampak serta memerluan perubahan metode mengarahkan sebuah institusi. Ada du hal penting yang diperlukan staf untuk menghasilkan mutu, yaitu:
a. Staf memerlukan lingkungan kerja yang cocok untuk bekerja, alat-alat ketrampilan, prosedur kerja yang sederhana yang dpat mendukung kerja mereka.
b. Staf memerlukan lingkungan yang mendukung dan menghargai kesuksesan dan prestasi yang mereka raih.
5. Organisasi Terbalik
Kunci sukses kultur TQM adalah mata rantai inernal-eksternal yang efektif antara pelanggan-produsen.Dalam kultur TQM, peran manajer senior dan menengah adalah member dukungan dan wewenang kepada para staf dan pelajar. Hierarki yang berupaya untuk engilustrasikan perubahan paradigm tersebut diadopsi oleh Karl Albretcht. Hierarki terbalik menekankan pada pola hubungan yang berorientasi pada pemberian layanan dan pentingnya pelanggan bagi institusi. Perubahan hirarki organisasi tradisional menjadi hirarki terbalik TQM dapat digambarkan sebagai berikut:
6. Menjaga Hubungan dengan Pelanggan
Peter dan Waterman mengungkapkan bahwa organisasi yan unggul adalah organisasi yang menjaga hubugan dengan pelanggan dan memiliki obsesi terhadap mutu. Mereka mngakui pertumbuhan dan perkembangan sebuah institusi bersumber dari kesesuaian layanan institusi dengan kebutuhan pelanggan.
Organisasi TQM memerlukan strategi untuk memenuhi keperluan pelanggan. Pendidikan mengahadapi tantangan:
a. Sebagian besar pelanggan pada mulanya tidak menerima informasi yang cukup, harapan-harapan pelanggan sangat beraneka ragam dan kadang kala saling bertentangan, persepsi pelajar tentang perubahan mutu akan terus berkembang saat pengalaman mereka mulai berkembang.
b. Para pelanggan memerankan peranan penting dalam mutu belajar mereka asing-masing. Pelanggan memiliki fungsi yag unik dalam menentukan mutu apa yang mereka terima dari pendidikan.
Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan adanya motivasi terhadap para staf yang melayani mereka serta memperjelas apa yang ditawarkan institusi dan apa yang diharapkan pelajar.
7. Kolega sebagai Pelanggan
Kolega dalam intitusi merupakan pelnggan internal yang memerlukan pelayanan internal agar mereka mampu mengerjakan tuga secara efektif. Metode terbaik untuk mengembangkan fokus pelanggan internal adalah membantu individu anggota staf agar mampu mengidentifikasi para penerima jasa mereka. Hal ini dikenal dengan “analisa antrian jasa” dan berkisar seputar pertanyaan:
- Siapa orang yang paling utama Anda layani?
- Siapa yang bergantung pada Anda agar tugas mereka dapat berjalan dengan tepat?
8. Pemasaran Internal
Pemasaran internal adalah alat untuk menciptakan komunikasi dengan staf agar mereka tahu informasi tentang apa yang terjadi dalam institusi dan memiliki kesempatan untuk memperbaharui ide-ide mereka. Pemasaran internal merupakan keharusan agar ide, produk dan jasa dapat dipasarkan kepada para staf seefektif kepada para klien.
9. Profesionalisme dan Fokus Pelanggan
Tenaga kerja professional dalam pendidikan tradisional melihat diri mereka sendiri sebagai pelindung dari mutu dan standard institusi. Penekanan TQM pada kedaulatan pelanggan dapat menyebabkan konflik dengan konsep-konsep professional tradisional.
Aspek terbaik dari profesioal adalah perhatian serta standard akademi dan kejuruan yang tinggi. Memadukan aspek terbaik profesional dengan mutu terpadu merupakan hal yang esensial untuk mencapai sukses.
10. Mutu Pembelajaran
Miller, Dower dan Inniss bersepakat dalam buku mereka Improving Quality in Further Education, bahwa yang berlaku terhadap berbagai bentuk institusi, menegaskan bahwa institusi harus memberikan beberapa model pegajaran dan pembelajaran terhadap para pelajar, sehingga mereka memilih kesempatan untuk meraih sukses secara maksimal.
Menerapkan prinsip-prinsip TQM dalam kelas bisa menggunakan pola berikut.
a. Langkah awal dimulai dengan kerjasama pelajar dan guru dalam menetapkan “misi” mereka. Negosiasi untuk mencapai misi, gaya pembelajaran dan pengajaran serta sumberdaya yang diperlukan.
b. Pengawasan yang detail harus dilakukan oleh ara guru dan murid untuk memastikan bahwa semua sudah berjalansesuai dengan yang diinginkan.
c. Menciptakan rangkaian umpan balik yang terus menerus untuk menjamin mutu.
d. Evaluasi merupakan proses yang berkelanjutan dan tidak boleh tertinggal. Hasil evaluasi dibiarakan dengan murid agar murid dapat melengkapi hasil evaluasi.
e. Menggunakan pengawasan formal untuk menetapkan keabsahan program-programnya.
Semua sumber kualitas di lingkungan organisasi pendidikan dapat dilihat manifestasinya melalui dimensi-dimensi kualitas yang harus direalisasikan oleh pucuk pimpinan bekerja sama dengan warga sekolah yang ada dalam lingkungan tersebut. Menurut Hadari Nawawi (2005 : 141), dimensi kualitas yang dimaksud adalah :
a. Dimensi Kerja Organisasi
Kinerja dalam arti unjuk perilaku dalam bekerja yang positif, merupakan gambaran konkrit dari kemampuan mendayagunakan sumber – sumber kualitas, yang berdampak pada keberhasilan mewujudkan, mempertahankan dan mengembangkan eksistensi organisasi (sekolah).
b. Iklim Kerja
Penggunaan sumber – sumber kualitas secara intensif akan menghasilkan iklim kerja yang kondusif di lingkungan organisasi. Di dalam iklim kerja yang diwarnai kebersamaan akan terwujud kerjasama yang efektif melalui kerja di dalam tim kerja, yang saling menghargai dan menghormati pendapat, kreativitas, inisiatif dan inovasi untuk selalu meningkatkan kualitas.
c. Nilai Tambah
Pendayagunaan sumber-sumber kualitas secara efektif dan efisien akan memberikan nilai tambah atau keistimewaan tambahan sebagai pelengkap dalam melaksanakan tugas pokok dan hasil yang dicapai oleh organisasi. Nilai tambah ini secara kongkrit terlihat pada rasa puas dan berkurang atau hilangnya keluhan pihak yang dilayani (siswa).
d. Kesesuaian dengan Spesifikasi
Pendayagunaan sumber-sumber kualitas secara efektif dan efisien bermanifestasi pada kemampuan personil untuk menyesuaikan proses pelaksanaan pekerjaan dan hasilnya dengan karakteristik operasional dan standar hasilnya berdasarkan ukuran kualitas yang disepakati.
e. Kualitas Pelayanan dan Daya Tahan Hasil Pembangunan
Dampak lain yang dapat diamati dari pendayagunaan sumber – sumber kualitas yang efektif dan efisien terlihat pada peningkatan kualitas dalam melaksanakan tugas pelayanan kepada siswa.
f. Persepsi Masyarakat
Pendayagunaan sumber-sumber kualitas yang sukses di lingkungan organisasi pendidikan dapat diketahui dari persepsi masyarakat (brand image) dalam bentuk citra dan reputasi yang positip mengenai kualitas lulusan baik yang terserap oleh lembaga pendidikan yang lebih tinggi ataupun oleh dunia kerja.
11. Kendala-kendala yang Harus Diatasi
a. TQM memerlukan waktu dan kerja keras untuk mengembangkan sebuah kultur mutu.
b. TQM mengharuskan kesetiaan jangka panjang staf senior terhadap institusi. Manajer senior yang kembali ke metode manajemen tradisional akan menjadi penghambat.
c. Volume tekanan eksternal berupa inisiatif lain yang menggilas mutu yang sudah dipublikasikan. Bagaimanapun mutu harus tetap diutamakan.
d. Peran manajemen menengah yang merupakan petugas operasional harian institusi dan petugas komuikasi.
e. Deming berpendapat bahwa menghilangkan rasa takut atau kawatir dalam upaya melakukan revolusi mutu adalah hal yang sangat esensial.
G. Kesimpulan
Agar efektif, Institusi perlu mengembangkan strategi mutunya, yang mencakup:
1. Misi yang jelas dan distingtif.
2. Fokus pelanggan yang jelas.
3. Strategi untuk mencapai misi.
4. Keterlibatan seluruh pelanggan baik internal maupun eksternal untuk mengembangkan strategi.
5. Pemberdayaan staf dengan menghilangkan kendala dan membantu mereka dalam memberi konstribusi maksimum pada institusi melalui pengembangan kelompok kerja yang efektif.
6. Penilaian dan evaluasi efektifitas institusi dalam mencapai tujuan yang berhubungan dengan pelanggan.
Untuk memulai mengimplementasikan manajemen kualitas total adalah sebuah tugas yang sulit. Terdapat sejumlah langkah yang simple dan penting untuk mengimplementasikan TQM dalam pendidikan, yaitu sebagai berikut:
1. Kepemimpinan dan komitmen terhadap kualitas harus datang dari atas.
“Hukum besi” dari kualitas. Semua model kualitas menekankan bahwa tanpa dorongan dari manajer senior inisiatif kualitas tidak akan berlangsung lama. Pendidikan tidak terkecuali belaku juga hukum besi. Pimpinan sekolah harus menunjukkan komitmen yang kuat dan terus-menerus dan memimpin jalan sambil mendorong kepala sekolah, wakil kepela sekolah dan supervisor lain untuk melakukan usaha secara serius.
2. Menyenangkan kustomer.
Ini dicapai dengan kerja keras secara kontinyu untuk memenuhi kebutuhan dan harapan kustomer. Kebutuhan kustomer ditentukan oleh pencarian secara reguler pandangan mereka. Terdapat bermacam-macam metode dari pekerjaan ini, seperti memfokuskan kelompok, kuesioner, kelompok penasehat, hari yang terbuka dan percakapan informal dengan orang-orang.
3. Menunjuk fasilitator berkualitas.
Pengabaian terhadap posisi aktual dari seseorang di dalam hirarki adalah penting bahwa fasilitator yang ditunjuk harus melaporkan secara langsung kepada kepala sekolah. Ini adalah pertangung jawaban dari fasilitator untuk mempublikasikan program dan mengarahkan kelompok pengarah yang berkualitas di dalam pengembangan program yang berkualitas.
4. Membentuk kelompok pengarah yang berkualitas.
Kelompok ini harus mewakili kepentingan dan harus memiliki perwakilan dari tim manajer senior. Peranannya adalah untuk mendorong dan membantu proses perbaikan kualitas. Baik sebagai pusat gagasan ataupun inisiator proyek.
5. Mengangkat koordinator yang berkualitas.
Ini berguna di dalam banyak inisiatif untuk memiliki orang-orang yang punya waktu untuk melatih dan penasehat orang lain.
6. Mengadakan seminar manajemen senior.
Untuk mengevaluasi perkembangan. Tim manajemen senior tidak akan komit terhadap proses kalau mereka mengatakan dengan baik tentang filsafat dan metode. Ini penting untuk membangun tim manajemen senior yang sehat dan teritegrasi secara baik.
7. Menganalisa dan mendiagnosis situasi terkini.
Hal ini penting dan tidak harus disepelekan karena memberikan arah dari proses secara keseluruhan. Semua institusi perlu menjadi jelas kemana mereka akan berjalan.
8. Menggunakan model di tempat lain yang telah berkembang.
Ini dapat diadaptasi dari pekerjaan dari seorang “guru” berkualitas, model pendidikan secara khusus, atau satu perusahaan lokal yang bisa diadaptasi.
9. Menempatkan konsultan eksternal.
Ini mulai sangat popular pada perusahaan industri, khususnya yang menerapkan BS5750 atau ISO9000. Ini tidak mungkin menjadi jalan popular di dunia pendidikan karena konsultansi itu mahal dan hadiah dari Departemen Perdagangan dan Industri tidak memungkinkan untuk pendidikan. Tetapi banyak institusi dengan partner industri bisa memperoleh nasehat tanpa biaya. Konsultan dapat digunakan di dalam satu dari empat jalan utama: Pertama, mereka dapat memberikan pertimbangan dan petunjuk tim manajemen senior. Kedua, berperan di dalam pelatihan. Diperlukan uang untuk melaksanakan sebuah training. Trainers eksternal yang telah ahli dapat mencapai syarat-syarat yang besar dari instruksi dan peningkatan kesadaran di dalam melakukan audit formal, penilaian dan evaluasi.
10. Memulai training staf tentang kualitas.
Pengembangan staf dapat dilihat sebagai jalan penting untuk membangun kesadaran dan pengetahuan yang berkualitas. Hal ini dapat menjadi kunci agen perubahan strategis untuk pengembangan budaya berkualitas. Ini juga penting di dalam tahap awal implementasi bahwa setiap orang di latih di dalam dasar-dasar TQM. Staf perlu pengetahuan banyak mengenai alat-alat kunci termasuk pembentukan teamwork, metode evaluasi, problem solving dan eknik pemecahan masalah. Menurut Tom Peter, di dalam Thriving on Chaos, menyatakan bahwa manajemen di masa depan akan mengalir melalui penguatan visi dan nilai-nilai yang saling bertemu. Karena itu, training adalah kesempatan besar untuk menanamkan dan menegaskan nilai-nilai organisasi. (Peter, 1987: 324).
11. Mengkomunikasikan pesan-pesan kualitas.
Strategi, relevansi dan kegunaan dari TQM perlu terkomunikasikan secara efektif. Terdapat banyak sekali kesalahpahaman seputar tujuan dari kualitas. Sifat alamiah jangka panjang dari program perlu dibuat jelas. Pengembangan staf, training dan pembangunan tim adalah beberapa dari jalan efektif untuk mencapai tujuan organisasi.
12. Menerapkan peralatan dan teknik berkualitas melalui pengembangan kelompok kerja secara efektif.
Pendekatan ini memfokuskan pada upaya mendapatkan sesuatu yang dilakukan untuk mencapai kesuksesan sejak awal. Ini memfokuskan pada sesuatu bahwa institusi mengetahui harus melakukan perbaikan, dan menyeleksi alat-alat yang benar untuk mengontrolnya. Memulai proses TQM dengan menangani pokok problem dengan menghindari kelumpuhan TQM. Tatkala menata tim aksi perbaikan atau kelompok tugas adalah penting untuk mengenal bahwa banyak isu daapat hanya dikontrol dengan tim perbaikan lintas organisasi. Ada beberapa kemungkinan baik menata seperti kelompok ad hoc, memberikan ringkasan untuk menangani problem khusus menurut skala waktu yang baik. Mereka memiliki keuntungan tambahan dari membantu untuk melahirkan kolaborasi organisasi yang lebih besar.
13. Mengevaluasi program secara regular Program TQM yang keluar dari inti TQM atau menjadi keluar rel.
Pandangan dan evaluasi reguler perlu menjadi bagian integral dari program. Kelompok pengarah harus menangani pandangan per semester dan tim manajemen senior harus mempertimbangkan laporan mereka dan melakukan monitoring.
H. Daftar Pustaka
Nawawi, Hadari . 2005. Manajemen Strategi. Yogyakarta: Gadjah Mada Pers.
Goetsch, David L dan Stanley B. Davis. 2000. Quality management: Introduction to Total Quality Management for Production, Processing, and Service. New Jersey: Prentice-Hall, Inc.
Munro. Lesley dan Malcolm. 2002. Menerapkan manajemen mutu terpadu. Jakarta: PT Gramedia.
Sallis, Edward. 2008: Total Quality Management in Education. Jogjakarta: IRCiSoD.
Langganan:
Postingan (Atom)